E-Madvanture (E-Mading Advanture) Edisi Juni: Fakta Unik Pendidikan

 Fakta Unik Pendidikan

Bulan Juni biasanya identik dengan akhir semester, ujian, dan musim pembagian rapor. Namun, bagi banyak ibu di kalangan akar rumput (keluarga prasejahtera),

Juni kini membawa ketabahan dan kecemasan yang berlipat ganda. Mengapa? Jawabannya ada pada digitalisasi pendidikan yang kian masif. Transformasi digital di dunia sekolah saat ini sering kali diglorifikasi sebagai langkah maju dan modern. Sayangnya, ada realitas pahit yang luput dari perhatian kita di lapangan. Kebijakan ini berjalan di atas asumsi keliru bahwa setiap rumah tangga memiliki fasilitas yang sama. Faktanya, bagi keluarga miskin, pendidikan digital tidak dimulai dari laptop canggih atau aplikasi belajar yang keren, melainkan dari satu pertanyaan sulit yang berputar di kepala para ibu: "Uang hari ini harus dipakai untuk membeli beras atau mengisi kuota internet anak?"

Di balik layar gawai yang dipakai anak-anak untuk ujian, ada perjuangan para ibu yang diam-diam memotong anggaran dapur. Kuota internet bukan lagi pengeluaran sekunder, melainkan sudah bergeser menjadi kebutuhan pokok yang setara dengan sembako. Anak-anak dari keluarga rentan ini dipaksa bersaing menggunakan ponsel pintar murah berspesifikasi rendah, layar retak, dan sinyal yang tidak stabil, berbanding terbalik dengan anak- anak dari kelas menengah ke atas yang nyaman belajar dengan laptop dan jaringan Wi-Fi rumah yang kencang.

Beban para ibu tidak berhenti pada urusan dompet. Keterbatasan literasi digital juga memicu masalah baru. Banyak ibu yang bekerja keras membelikan gawai untuk anaknya justru sama sekali tidak paham cara mengoperasikannya. Mereka tidak tahu cara mengecek aplikasi sekolah, bahkan tidak tahu kata sandi ponsel tersebut. Minimnya akses ini membuat para ibu kehilangan kendali untuk menyaring konten yang aman, sementara di sisi lain, mereka harus menghadapi perubahan perilaku anak yang menjadi kecanduan layar (screen addiction) hingga sering mengamuk (tantrum) saat gawai diambil. Tensi emosional di dalam rumah pun kerap meningkat.

Pendidikan digital saat ini terkesan melepaskan tanggung jawab publik dari negara dan mengalihkannya ke ranah domestik secara penuh. Tugas sekolah berpindah ke ponsel, biaya operasional ujian dibebankan ke anggaran keluarga, dan pada akhirnya, beban emosional serta finansial paling berat sengaja atau tidak sengaja dialihkan ke pundak seorang ibu. Transformasi digital tidak boleh melupakan keadilan sosial; ia tidak boleh maju dengan cara mengorbankan ketabahan para ibu di dapur rumah mereka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

E-Madvanture (E-Mading Advanture) Edisi Oktober: EXCELSIOR 2025

E-Madvanture (E-Mading Advanture) Edisi Agustus: PAPEDA BATCH 3 2025